Tarakan (Humas MTsN Bulungan) Kepala MTsN Bulungan Hj. Rosdiana beserta Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum Norjamilah mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) bagi Guru Madrasah dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Angkatan I Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara di Auditorium SMPN 1 Tarakan pada Senin (9/2/2026).
Bimtek ini dihadiri Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Nyayu Khodijah, S.Ag., M.Si secara virtual dan secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, H. Muh. Saleh.
Turut hadir Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara, serta Kepala SMPN 1 Tarakan. Hadir sebagai narasumber bimtek ini Shofar Sholahudin, M.Pd, Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tegal, dan Nurelah, M.Pd, Guru MTsN 1 Kediri, yang memberikan penguatan materi terkait strategi dan praktik implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran.
Dalam arahannya pada kegiatan ini Direktur KSKK Madrasah, Prof. Nyayu Khodijah, menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan keseimbangan antara kompetensi akademik dan pembentukan karakter. Ia menjelaskan bahwa kurikulum ini bertumpu pada nilai Panca Cinta: cinta kepada Tuhan, sesama manusia, ilmu pengetahuan, lingkungan, serta bangsa dan negara.
“Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang beriman, berempati, gemar belajar, peduli lingkungan, dan memiliki semangat kebangsaan. Implementasinya harus terasa nyata dalam proses pembelajaran,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Kaltara H. Muh. Saleh dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bimtek ini merupakan langkah strategis dalam menghadirkan pendidikan yang humanis dan bermakna. Menurutnya, Panca Cinta perlu diterjemahkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari agar peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang utuh.
“Cinta kepada Tuhan membentuk akhlak dan spiritualitas. Cinta kepada sesama menumbuhkan toleransi. Cinta ilmu memperkuat budaya belajar. Cinta lingkungan membangun tanggung jawab ekologis. Dan cinta bangsa memperkokoh persatuan. Guru memiliki peran penting sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut,” tegasnya.
H. Muh. Saleh, menambahkan bahwa keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta sangat bergantung pada komitmen dan keteladanan guru dalam keseharian. Menurutnya, nilai Panca Cinta tidak cukup hanya dipahami secara konseptual, tetapi harus dihidupkan dalam budaya sekolah dan interaksi pembelajaran.
“Guru adalah figur utama dalam menanamkan nilai. Ketika cinta kepada Tuhan, sesama, ilmu, lingkungan, serta bangsa diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata, maka peserta didik akan belajar melalui contoh. Inilah fondasi penting untuk membangun generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Kanwil Kemenag Kaltara berharap para guru mampu mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara efektif di madrasah dan sekolah, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter generasi yang berintegritas dan berdaya saing* (Mqy)
Tidak ada komentar